SELAMAT DATANG DI WEBSITE HAMAM FAIZIN. SEMOGA ANDA MENDAPATKAN APA YANG ANDA INGINKAN. JANGAN LUPA ISI KOMENTAR ANDA ATAU BUKU TAMU. TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA..... Naja, Naila dan Akma...anak-anak lucu dan mungil: Tabir
Tampilkan postingan dengan label Tabir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabir. Tampilkan semua postingan

Fenomena Qur'anic Healing

Oleh: Miftah K. Nurwati
(Ustadzah SDIT Salsabila Yogyakarta dan Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Ilmu Allah itu sangat luas, tak terbatas, bersumber dari berbagai hal dan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Saking luasnya ilmu Allah itu, manusia terkadang mencarinya melalui berbagai cara dan kepada siapa saja. Dalam hal ini, penyembuhan (healing) yang merupakan setetes dari ilmu Allah itu ada di mana-mana.

Sering kita mendengar seseorang mengidap penyakit akut hingga harus opname berminggu-minggu hingga berbulan-bulan di rumah sakit dan mendapatkan perawatan khusus di ruang ICU (Intensive Care Unit). Berbagai macam resep obat dari dokter sudah dicoba. Tapi penyakit tak kunjung sembuh. Namun, uniknya begitu dibacakan kata-kata ataus ayat-ayat tertentu dari al-Qur’an, penyakit tersebut sembuh. Kasus-kasus seperti ini mungkin sudah lazim kita dengar, bukan?

Dari sini, saya hanya ingin mengatakan bahwa ilmu (penyembuhan atau healing) Allah itu bisa datang dari mana saja. Tidak hanya dari satu arah saja. Melainkan di arah yang terkadang orang tidak menyangkanya (min haisu la yahtasib).

Oleh karena itu, akhir-akhir ini mungkin sering kita dengar sebagian warga masyarakat Indonesia, khususnya yang terkena penyakit sering berobat ke pengobatan-pengobatan alternatif. Konon pengobatan ini juga tidak banyak menghabiskan biaya dan terkadang masa kesembuhannya lebih cepat dari pada yang diprediksi sebelumnya. Dan uniknya, metode-metode pengobatan alternatif itu tidak lepas dari bacaan-bacaan Qur’ani.

Pembacaan-pembacaan bagian atau penggalan ayat-ayat tertetu dari al-Qur’an biasanya dilakukan oleh tabib atau si penderita atau bahkan orang lain yang fadilah atau efek bacaan itu diniatkan untuk diberikan kepada si penderita. Pembacaan itu bisa dilakukan dengan kemasan dzikir maupun dibaca secara biasa. Tentu hal ini sudah jamak di Indonesia. Model pengobatan inilah yang sering kali disebut dengan metode Qur’anic Healing atau sebagian pakar juga menyebutnya Sufi Healing. Tentu saja fenomena Qur’anic Healing ini sering kita jumpai di daerah-daerah di Indonesia.

Sebagai sebuah fenomena, Qur’anic Healing tidak sepenuhnya diterima oleh semua masyarakat alias cukup kontroversial. Sebagian berdalih bahwa jenis pengobatan ini terlalu dibuat-buat. Sebagian lagi beralasan bahwa al-Qur’an itu diturunkan untuk petunjuk hidup (way of life), bukan untuk mengobati penyakit. Penyakit itu diobati dengan obat-obat medis. Dan berbagai alasan yang lain.

Bagi saya, dalam sejarah peradaban Islam, Qur’anic Healing itu memiliki presedennya. Kalau kita baca abab an-nuzul surat al-Mu’awizatain (an-Nas dan al-Falaq), akan dijumpai riwayat yang menginformasikan bahwa Nabi Muhammad saw. menolak sihir dengan membacakan surat tersebut. Dalam riwayat yang lain, juga disebutkan bahwa Nabi Muhammad juga pernah menyembuhkan penyakit dengan ruqyah lewat surat al-Fatihah.

Penyembuhan dengan al-Qur’an (Qur’anic Healing) pada dasarnya bukanlah hal yang baru. Bahkan dalam lintasan sejarah Islam Qur’anic Healing mendapatkan legitimasinya. Al-Qur’an sendiri sebagai sumber otoritas pertama dalam Islam sering kali menyebut dirinya sebagai syifa’ (penyembuh), sebagaimana Q.S.Bani Isra’il (17): 82, “Wa nunazzilu minal qur’ani ma huwa syifa’un wa rahmatul lil mu’minin…(Dan Kami turunkan dari al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman).

Dari sinilah kiranya pemikiran untuk mengacuhkan Qur’anic Healing harus ditinjau ulang. Menurut hemat saya, Qur’anic Healing—kalau tidak boleh disebut sebagai jenis ‘tafsir’—merupakan salah satu usaha manusia untuk mengapresiasi, meresepsi dan menghidupkan al-Qur’an. Dan—kalau boleh dikatakan sebagai jenis ‘tafsir’—Qur’anic Healing merupakan sebuah jenis tafsir yang memperlakukan al-Qur’an di luar kapasitasnya sebagai teks. Sebab secara semantis, surat al-Fatihah misalnya, tidak memiliki kaitan dengan penyakit tapi digunakan untuk fungsi di luar fungsi semantisnya.

Inilah yang oleh sebagian sarjana dikategorikan sebagai tafsir ‘anagogik’. Namun dalam khasanah tafsir, terutama di Indonesia, fenomena itu belum mendapat perhatian khusus, bahkan cenderung tidak dianggap sebagai tafsir.

Menurut Muhammad Zuhri--tokoh sufi modern yang memiliki yayasan Barzakh dan menawarkan metode penyembuhan ini—‘penyembuhan’ bagi kalangan sufi merupakan salah satu pengejawantahan diri dalam rangka melaksanakan ‘rahmatan lil ‘alamin’. Dalam menyalurkan daya penyembuhan, mereka tidak terikat oleh sistem atau metodologi yang sama. Sebab masalah teknis tersebut mereka dapatkan melalui pengalaman unik mereka masing-masing di dalam proses penemuan diri. Bahkan sering terjadi di luar rencana dan kesengajaan mereka.

Menurut para Sufi, demikian juga kebanyakan orang beriman, daya-penyembuhan itu milik Allah. Ia (healing) diturunkan ke dunia melalui lorong sebab (kausalitas) yang bermacam-macam. Diantaranya adalah Kausalitas Supranatural yang dikaruniakan Tuhan bagi kaum Sufi.

Jelasnya, kausalitas ada dua, yaitu: Kausalitas Supranatural dan Kausalitas Natural. Kausalitas Natural juga terdiri dari dua macam, yaitu: Kausalitas Magis dan Kausalitas Logis. Dan Kausalitas Logis terdiri dari dua macam pula, yaitu: Kausalitas Horisontal dan Kausalitas Vertikal.

Jika Kausalitas Supranatural difasilitaskan buat para Sufi, Kausalitas Natural diamanatkan buat para ahli yang lain. Misalnya Kausalitas Magis bagi para penyihir, paranormal, dukun, dan sebagainya. Kausalitas Logis Horisontal diamanatkan kepada para dokter, apoteker, akupunktur, dan tabib-tabib tradisional. Sedangkan Kausalitas Logis Vertikal dipercayakan kepada para psikiater atau dokter jiwa.

Namun, masih menurut Muhammad Zuhri, tidak sebagaimana diduga oleh kebanyakan orang bahwa penguasaan Kausalitas Supranatural bisa dilatih lewat seperangkat riadloh (exercise) seperti penguasaan Kausalitas Magis, atau dengan sebuah teori lewat eksperimen-eksperimen pada objek natur seperti penguasaan Kausalitas Logis, karena fasilitas tersebut merupakan karunia Ilahi kepada hamba-Nya yang telah jauh menempuh proses pengabdian dengan segala resiko eksistensialnya. Proses pengabdian kepada Yang Maha Sempurna memiliki nilai ganda ke luar maupun ke dalam, yang mengisyaratkan telah berlangsungnya transformasi kesadaran lewat momen-momen transendensi dan imanensi selama dalam proses. Dari sini tampaknya, bisa disimpulkan bahwa metode-metode Qur’anic Healing atau Sufi healing memang benar adanya. Sebab ada kausalitas yang dibangun di dalamnya. Dan inilah yang terkadang belum bisa diterima oleh khalayak.

Walhasil, saya pernah membaca sebuah artikel di Arab News 3 October 2003, sejenis koran yang terbit di Jeddah. Artikel tersebut mengkisahkan Syekh Muhammad Abdullah al-Ayed, seorang tabib (healer) di Saudi Arabia, yang menjelaskan tentang kekuatan healing al-Qur’an. Yang menarik dari artikel itu adalah kutipan pernyataan al-Ayed yang menyatakan bahwa kekuatan healing al-Qur’an tidak hanya bereaksi atau bekerja kepada orang-orang Islam (muslim) tetapi juga non-muslim. Sebab beliau pernah mengobati seorang Amerika yang telah divonis mengidap kanker dengan ayat-ayat sementara orang Amerika ini tidak paham kata-kata al-Qur’an, namun dia hanya mengikuti tuntunan bacaan Syekh al-Ayed saja. Setelah itu, orang Amerika sembuh.

Kemudian al-Ayed mengatakan: “Inilah bukti bahwa al-Qur’an bisa menyembuhkan muslim dan non-muslim sekaligus. Dan saya ingin menegaskan bahwa penyembuhan melalui al-Qur’an (Qur’anic Healing) bukan lagi sebuah alternatif dalam ranah pengobatan modern (modern medicine).” Jadi, Qur’anic Healing itu sudah setara dengan pengobatan-pengobatan di rumah sakit. Ada teori-teorinya, ada rumusnya dan bisa dirasionalkan, meskipun tidak semua orang bisa melakukannya.

Dalam konteks inilah, apa yang menjadi brand Khalifah—yakni mengajak umat Islam membaca al-Qur’an dengan bertujuan, salah satu, untuk penyembuhan—layak mendapatkan apresiasi, sebagai salah satu sumbahan atau kontribusi dalam kancah pengobatan modern. Wallahu’alam.

Read more»»

Membaca Struktur Surat Al-Fatihah

Oleh: Hamam Faizin
(Peserta Program Pasca Sajana Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta)
Dimuat dalam Tabloid Edisi 79 | Th IV |17-30 Januari 2008/ 8-21 Muharram 1429.

Al-fatihah adalah surah pertama di dalam susunan mushaf al-Qur’an. Surat ini menjadi pembuka al-Qur’an. Oleh karenanya disebut al-Fatihah, pembuka. Sebagian ulama menamainya dengan Ummul Qur’an (induk al-Qur’an) sebab al-Fatihah memuat ajaran-ajaran inti dari al-Qur’an. Sudah banyak ulama yang menafsirkan makna dari setiap kata dalam surah ini secara terperinci. Oleh karena itu, tulisan ini tidak akan menafsirkan dalam arti memaknai setiap kata dan kemudian mengungkapkan maksudnya namun berusaha menyingkap rahasia struktur surah al-Fatihah, yakni adanya struktur kesimbangan (harmony) dari sejumlah sisi seperti struktur gramatikal dan muatan atau isinya.

Untuk memudahkan analisis, bismillah tidak dimasukkan dalam surah ini. Alasannya sederhana, terjadi banyak perdebatan apakah ia termasuk ayat surah al-Fatihah atau tidak, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Tabloid Khalifah dalam setiap edisinya. Untuk menunjukkan adanya nilai-nilai keseimbangan dalam sejumlah hal di surah ini, mula-mula surat akan dibagi ke dalam dua bagian utama. Pembagian ini hampir sama dengan Metode Struktur dan Format al-Qur’an (MSFQ) yang diperkenalkan oleh Khalifah (Lihat buku Membaca dan Memahami Struktur al-Qur’an, 2006:45).

Bagian pertama terdiri dari ayat 1-3 (alhamdulillahirabbil alamain, arrahmanirrahim, maliki yaumiddin). Bagian kedua terdiri dari ayat 5-6 (ihdinassiratal mustaqim, siratalladhina an ‘amta alaihum ghairil maghdhubi alaihim waladdhallin). Sedangkan ayat 4 (iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in) adalah penghubung antara dua bagian utama tersebut. Mari kita mulai analisisnya.

Kalimat nominal dan verbal.

Dalam tata bahasa Arab, ayat 1-3 berbentuk kalimat nominal (jumlah ismiyah). Sementara ayat 5-6 adalah kalimat verbal (jumlah fi’liyyah). Sedangkan ayat 4 yang berada di antara dua bagian utama tersebut memiliki dua kualitas (nominal dan verbal) atau disebut Jumlah Dzatu Wajhain (kalimat dengan dua-wajah). Ayat 4 inilah yang memiliki fungsi memudahkan perubahan atau perpindahan dari kalimat nominal menuju verbal sehingga perpindahannya terasa begitu halus, tidak ngaget (Jw. mengejutkan).

Dalam ilmu kaidah tafsir, kalimat nominal memiliki fungsi menyatakan sesuatu yang permanen, abadi (Dawam/being). Sementara kalimat verbal berfungsi menyatakan sesuatu yang terjadi, baru (hudust/becoming) atau lawan dari dawam. Jadi, puji (Tsana’) Allah, sifat ar-Rahman dan ar-Rahim, serta sifat Raja di hari Akhir (ayat 1-3) merupakan sesuatu yang abadi, permanen. Sedangkan bagian kedua yang berisi permintaan untuk ditunjukkan pada jalan yang lurus merupakan kegiatan yang becoming, harus terus menerus dilakukan. Di sini keseimbangan tersebut terjadi, yakni adanya kalimat nominal dan verbal yang seimbang yang ditengah-tengahi oleh jumlah dzatu wahjain (ayat 4).

Di sinilah terjadi keseimbangan gramatikal, yakni adanya kalimat nominal dan verbal, di mana di antara kedua bentuk kalimat itu ditengah-tengahi oleh kalimah dzatu wajhain, yang berfungsi memudahkan perpindahan dari kalimat nominal ke verbal.

Pikiran dan Aksi

Kalau dibaca secara saksama, bagian pertama, ayat 1-3 berisi gagasan atau pikiran tentang Tuhan semesta alam dan sifat-sifatnya. Sedangkan di bagian kedua, berdasarkan refleksi atas gagasan dan pikiran tersebut manusia mulai mau melakukan (aksi) yakni meminta tolong, beribadah kepadanya dan minta ditunjuki jalan yang benar. Dengan kata lain, pikiran dan gagasan tentang Tuhan telah mengantarkan pada sebuah aksi atau pergerakan. Di sinilah terdapat keseimbangan antara pikiran, ide, pemahaman dan aksi atau pergerakan.

Interaksi Tuhan dan Manusia

Menurut surah ini, manusia membutuhkan bantuan Allah dan sudah seharusnya mencari bantuan itu. Di sini lain, Tuhan tidak hanya memperhatikan urusan manusia, tetapi juga melakukan intervensi di dalam sejarah manusia dengan menyediakan segala kebutuhan manusia. Oleh karena itu, terjadilah interaksi antara Tuhan dan manusia. Interaksi tersebut tercermin dalam surah ini. Bagian pertama menyatakan bagaimana Tuhan dihubungkan dengan dunia secara umum (rabbil ‘alamin) dan dihubungkan dengan manusia secara khusus (maliki yaumiddin / Raja di hari pembalasan, membalas amal-amal manusia). Sementara bagian kedua menyatakan bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan Tuhan Sang Pencipta. Terjadilah interaksi dari Tuhan ke manusia dan dari manusia ke Tuhan.

Sehingga masing-masing ayat pada bagian pertama menjadi pasangan pada bagian kedua. Jadi, ayat 1 berbicara tentang Rububiyyah Tuhan dan ayat 4 berbicara tentang penyembahan kepada Tuhan dari manusia untuk mendapatkan petunjuk. Ayat 3 berbicara tentang sifat Tuhan, Raja di Hari Pembalasan dan ayat 6 berbicara tentang penilaian Tuhan, pada hari itu, kepada manusia, mana yang benar dan yang sesat.

Temporal dan non-temporal

Bagian pertama, ayat 1-3 secara gramatikal adalah satu kalimat, yakni kalimat nominal. Kalimat nominal itu tidak memiliki keterangan waktu (tense), sehingga ini menunjukkan non-temporality (tidak berwaktu). Jika ayat 4 kita tinggalkan sejenak, maka ayat 5-6 juga membentuk satu kalimat, yakni verbal. Kalimat verbal memiliki keterangan waktu (tense) sehingga menunjukkan temporality (keberwaktuan). Bagian pertama (ayat 1-3) merupakan realitas ketuhanan (Divine reality), yang tak terbatas waktu dan bagaian kedua (ayat 5-6) merupakan realitas manusia yang terbatas waktu. Tuhan yang melampaui batas waktu berhubungan dengan dunia manusia yang terbatas waktu. Sedangkan ayat 4, yang menghubungkan dua bagian utama surah ini merupakan sebuah deklarasi atau ikrar oleh manusia yang terbatas untuk pasrah kepada yang Tak Terbatas dan sebuah seruan kepada Yang Tak Terbatas agar masuk ke dalam dunia yang terbatas.

Dunia dan Akhirat

Meskipun kedua bagian utama surah ini merujuk pada dunia dan akhirat, namun fokus utama pada bagian pertama adalah dunia (terdapat konteks dunia di mana menusia berefleksi tentang alam ini). Dan bagian kedua berfokus pada akhirat (terdapat konteks keselamatan akhirat yang dicari manusia). Namun pada saat yang sama, pada bagian pertama Allah sebagai Raja di Hari Pembalasan (ayat 3)juga merujuk pada hari Kiamat dengan istilah yang jelas. Sementara bagian kedua (yang berisi tentang keselamatan dan hukuman diperoleh berdasarkan atas kebaikan dan keburukan yang dilakukan di dunia) menjadi sesuatu yang pasti. Di sinilah, perhatian Allah kepada urusan dunia dan akhirat seimbang. Dunia adalah ladang akhirat dan akhirat adalah tujuan manusia. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Harus sama-sama diperhatikan secara seimbang.

Individu dan sosial

Kalau Anda membaca surah al-Fatihah, terutama ketika membaca bagian pertama (ayat 1-3), posisi Anda adalah sebagai diri individu, yakni diri pribadi yang memuji Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Namun, begitu Anda membaca ayat 4 dan bagian kedua (ayat 5-6), diri Anda berubah menjadi diri sosial (kolektif). Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan (iltifat) dari pembicara tunggal menjadi pembicara plural, yakni dengan dhamir (kata ganti) nun pada kata na’budu (kami menyembah), nasta’in (kami meminta tolong) dan ihdina (tunjukilah kami). Dari sini seolah-olah surah al-Fatihah mengajarkan agar kesalehan individu iu bisa membawa kepada kesalehan sosial atau kolektif. Atau dengan kata lain, harus ada keseimbangan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial.

***
Keseimbangan-kesembangan di dalam surah al-Fatihah tidak hanya ditunjukkan pada enam hal di atas saja tetapi masih banyak lagi lainnya, seperti adanya keseimbangan antara persepsi dan konsepsi, emosi dan kognisi, inisiatif dan respon serta priviles dan tanggung jawab.

Pada surat pertama dalam mushaf al-Qur’an ini, manusia sudah diajarkan cara hidup yang seimbang. Nilai keseimbangan ini memang penting bagi manusia yang hidup di tengah-tengah berbagai bentuk dan aksi kehidupan yang ekstrim. Kiranya, sabda Nabi Muhammad saw sebaik-baik urusan itu yang pertengahan (khairul umuri ausatuha), kini menemukan momentumnya. Kata pertengahan (ausatuha) mengandaikan adanya keseimbangan dalam merespon berbagai persoalan.

Walhasil, baru dilihat dari strukturnya saja surat al-Fatihah sudah memberikan pelajaran yang banyak, belum makna-makna dari setiap kata dan kalimatnya. subhanallah.

Read more»»